BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Senin, 31 Januari 2011

Seaworld Indonesia Tempat Rekreasi Berkualitasl

Seaworld Indonesia adalah sebuah taman biota laut yang terdapat didalam kompleks Wisata Taman Impian Jaya Ancol, yang terletak di Jalan Lodan Timur No. 7, Pademangan, Jakarta Utara, Jakarta, Indonesia.
Seaworld Indonesia adalah sebuah tempat rekreasi yang berkualitas, karena disamping memberikan hiburan juga memberikan nilai-nilai pendidikan dan nilai-nilai sejarah yang bermanfaat bagi masyarakat dan generasi muda.
Seaworld Indonesia dalam operasionalnya mengemban 3 (tiga) misi besar, yaitu Pendidikan, Konservasi dan Hiburan. Melalui tiga misi inilah Seaworld Indonesia menempatkan dirinya sebagai tempat hiburan yang berkualitas di mata dunia.
Indonesia adalah negara maritim yang sangat kaya akan biota lautnya, dapat dipahami karena Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.504 pulau yang terhampar disepanjang garis katulistiwa dan rentang garis pantainya terbujur sepanjang 81.290 km, sehingga Seaworld Indonesia dalam usahanya untuk memperkenalkan kehidupan biota laut yang ada di alam, maka Sea world Indonesia mendatangkan berbagai biota, baik biota perairan tawar maupun biota perairan laut.
Seaworld Indonesia memiliki koleksi biota perairan tawar yang terdiri dari 22.000 ekor ikan (sebanyak 126 Jenis), 28 reptil (sebanyak 5 jenis), juga memiliki biota perairan laut yang terdiri dari 5180 ekor ikan (sebanyak 26 jenis), 79 avertebrata (sebanyak 13 jenis), 30 reptil (sebanyak 5 jenis) dan 1 mamalia.
Bermacam-macam ikan dan biota air yang dapat dilihat di Seaworld Indonesia, seperti ikan hiu, duyung dugong, belut laut, ikan badut, ikan kakaktua, moray eel, ikan arapaima gigas, ikan arawana merah, ikan ekor kuning, ikan puri kelapa, ikan dewa, gurita, ikan piranha, buaya putih, ikan pari, penyu, kura-kura dan masih banyak lagi lainnya.

Sekelumit Tentang Seaworld Indonesia
Pada tanggal 2 Oktober 1980 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan Seaworld Indonesia oleh Gubernur DKI, yaitu oleh Bpk. Wiyogo Atmodarminto.
Seaworld Indonesia dalam tahap pembangunannya menempati lahan seluas 3 hektar dengan luas bangunan utama seluas 4.500 m2.
Pada tanggal 3 Juni 1982, Seaworld Indonesia sudah mulai beroperasi sampai sekarang.

Fasilitas-fasilitas Yang Tersedia
Terdapat fasilitas seperti Aquarium, Tunnel, Fish Dip, Fun Dive, Museum, Library, Theater, Photospot, Observation Deck, Touch Screen, Food Court, Gift Shop, Function Hall, First Aid, Mosque, Parking Area.

Pertunjukkan di Seaworld Indonesia
Main Aquarium, SharkQuarium, Touch Pool, Dugong, Crocodile, Holoquarium, AquArapaima, Dancing Eel.

Hal Menarik di Seaworld Indonesia
Terowongan Antasena
Terowongan Antasena adalah sebuah terowongan yang terdapat disebuah Akuarium Utama atau Akuarium Raksasa di Sea world Indonesia, dimana pada bagian Akuarium Utama tersebut terdapat sebuah terowongan yang dindingnya terbuat dari akrilik bening sehingga tembus pandang kedalam Akuarium Utama.
Pengunjung dapat masuk ke terowongan akuarium ini yang panjangnya ± 80 meter, sepanjang terowongan ini pengunjung dapat bergerak maju kedepan dengan hanya berdiri diatas sejenis alat ban berjalan. Sepanjang terowongan ini, pengunjung akan merasakan sensasi seolah-olah berada didasar laut, karena pengunjung dapat melihat berbagai jenis ikan yang berenang melintasi kepala atau berenang disamping kanan dan kiri pengunjung.
Akuarium utama ini merupakan akuarium terbesar di Asia Tenggara yang mampu menampung air laut hingga lima juta liter, Akuarium utama ini berukuran 38 x 24 m dengan kedalaman berkisar antara 4,5 dan 6 meter.

Terapi Ikan Gararupa
Di Seaworld Indonesia terdapat fasilitas terapi ikan, yang diterapi oleh Ikan Gararupa.
Ikan Gararupa adalah sejenis ikan yang berasal dari sungai di negara Turki.
Pengunjung dapat mencoba bagaimana rasanya jika kaki ataupun tangan diterapi oleh Ikan Gararupa dengan cara digigit-gigit, sedikit terasa geli dan tidak berbahaya. Anak-anakpun bisa diajak turut serta untuk ikut terapi. Ikan Gararupa berukuran antara 3 cm sampai 5 cm.

Ikan Purba Coelacant
Terdapat seekor ikan purba Coelacant (baca: ikan Selakan) yang telah diawetkan.
Ikan yang dianggap telah punah ini berhasil ditemukan pada tanggal 25 November 2008 di perairan Pulau Talise, Manado, Propinsi Sulawesi Utara, Pulau Sulawesi.

Arapaima Gigas
Arapaima Gigas adalah ikan air tawar terbesar di dunia, panjangnya bisa mencapai 5 meter. Ikan ini asalnya dari sungai Amazon, Brazil.

Suvenir Khas Seaworld Indonesia
Terdapat toko suvenir khas Seaworld Indonesia, disini pengunjung dapat menemukan barang-barang suvenir seperti boneka, gantungan kunci, sepatu, kaos, baju, dan lain-lainnya.

Waktu Kunjungan Ke Seaworld Indonesia
Seaworld Indonesia buka setiap Hari Senin s/d. Hari Minggu dan Hari Libur.
Mulai buka pukul 09.00 WIB - 18.00 WIB.

Transportasi Menuju Seaworld Indonesia
Seaworld Indonesia bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum.
Dari pusat kota Jakarta, pengunjung dapat menggunakan angkutan umum, seperti Trans Jakarta, taxi serta bus umum, ± 40 menit untuk sampai dilokasi Seaworld Indonesia.
Ikuti petunjuk yang ada dilokasi agar dapat sampai ke Seaworld Indonesia.
(KoranBaru.com)

Rekreasi

Rekreasi, dari bahasa Latin, re-creare, yang secara harfiah berarti 'membuat ulang', adalah kegiatan yang dilakukan untuk penyegaran kembali jasmani dan rohani seseorang. Hal ini adalah sebuah aktivitas yang dilakukan seseorang disamping bekerja. Kegiatan yang umum dilakukan untuk rekreasi adalah pariwisata, olahraga, bermain, dan hobi. Kegiatan rekreasi umumnya dilakukan pada akhir pekan.

Rekreasi merupakan aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang secara sengaja sebagai kesenangan atau untuk kepuasan, umumnya dalam waktu senggang. Rekreasi memiliki banyak bentuk aktivitas di manapun tergantung pada pilihan individual. Beberapa rekreasi bersifat pasif seperti menonton televisi atau aktif seperti olahraga.

Sejak tahun 1940-an, rekreasi telah menjadi unsur penting dalam kehidupan moderen. Pendapatan, kondisi pekerjaan dan perkembangan transportasi yang semakin baik telah memberi orang lebih banyak uang, waktu dan pergerakan yang lebih tinggi untuk melakukan rekreasi. Pada saat ini, rekreasi telah menjadi industri besar. Rekreasi umumnya berdampak pada rasa senang tingkat kesehatan fisik dan mental manusia. Rumah sakit pun sering mengadakan aktivitas rekreasi terapi untuk pasien.
Rekreasi di Amerika

Sejak tahun 1980-an, orang Amerika telah mengeluarkan biaya lebih dari $ 200 juta per tahun untuk berekreasi. Banyak perusahaan menyediakan fasilitas dan peralatan untuk rekreasi. Fasilitas-fasilitas yang paling banyak digunakan antara lain bioskop, gelanggang bowling, bumi perkemahan, resor, padang golf, lapangan tenis dan taman ria. Ada banyak perusahaan yang khusus membuat perlengkapan untuk rekreasi seperti alat-alat olahraga dan persediaan berkemah.

Rekreasi terpopuler bagi banyak orang adalah menonton televisi. Rata-rata satu pesawat televisi di rumah orang Amerika ditontong sekitar 7 jam per hari. Bentuk rekreasi lain yang populer adalah hobi dan berkebun, koleksi perangko, main kartu dan catur, pergi ke perayaan budaya, serta mengunjungi museum, teater, konser dan sebagainya.

Rekreasi luar lapangan terpopuler di Amerika Serikat:

* Pergi ke kebun binatang, akuarium, pekan raya dan karnaval
* Piknik
* Mengendarai mobil
* Berjalan dan jogging
* Berenang
* Berwisata
* Menonton pertandingan olahraga
* Ikut serta dalam olahraga dan permainan
* Memancing
* Lintas alam
(KoranBaru.com)

Pendidikan Bahasa Indonesia

Pendidikan Bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah. Tak heran apabila mata pelajaran ini kemudian diberikan sejak masih di bangku SD hingga lulus SMA. Dari situ diharapkan siswa mampu menguasai, memahami dan dapat mengimplementasikan keterampilan berbahasa. Seperti membaca, menyimak, menulis, dan berbicara. Kemudian pada saat SMP dan SMA siswa juga mulai dikenalkan pada dunia kesastraan. Dimana dititikberatkan pada tata bahasa, ilmu bahasa, dan berbagai apresiasi sastra. Logikanya, telah 12 tahun mereka merasakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di bangku sekolah. Selama itu pula mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak pernah absen menemani mereka.

Tetapi, luar biasanya, kualitas berbahasa Indonesia para siswa yang telah lulus SMA masih saja jauh dari apa yang dicita-citakan sebelumnya. Yaitu untuk dapat berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.Hal ini masih terlihat dampaknya pada saat mereka mulai mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Kesalahan-kesalahan dalam berbahasa Indonesia baik secara lisan apalagi tulisan yang klise masih saja terlihat. Seolah-olah fungsi dari pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah tidak terlihat maksimal. Saya penah membaca artikel dosen saya yang dimuat oleh harian Pikiran Rakyat. Dimana dalam artikel tersebut dibeberkan banyak sekali kesalahan-kesalahan berbahasa Indonesia yang dilakukan oleh para mahasiswa saat penyusunan skripsi. Hal ini tidak relevan, mengingat sebagai mahasiswa yang notabenenya sudah mengenyam pendidikan sejak setingkat SD hingga SMU, masih salah dalam menggunakan Bahasa Indonesia.

Lalu, apakah ada kesalahan dengan pola pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah? Selama ini pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah cenderung konvesional, bersifat hafalan, penuh jejalan teori-teori linguistik yang rumit. Serta tidak ramah terhadap upaya mengembangkan kemampuan berbahasa siswa. Hal ini khususnya dalam kemampuan membaca dan menulis. Pola semacam itu hanya membuat siswa merasa jenuh untuk belajar bahasa Indonesia. Pada umumnya para siswa menempatkan mata pelajaran bahasa pada urutan buncit dalam pilihan para siswa. Yaitu setelah pelajaran-pelajaran eksakta dan beberapa ilmu sosial lain. Jarang siswa yang menempatkan pelajaran ini sebagai favorit. Hal ini semakin terlihat dengan rendahnya minat siswa untuk mempelajarinya dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Saya menyoroti masalah ini setelah melihat adanya metode pengajaran bahasa yang telah gagal mengembangkan keterampilan dan kreativitas para siswa dalam berbahasa. Hal ini disebabkan karena pengajarannya yang bersifat formal akademis, dan bukan untuk melatih kebiasaan berbahasa para siswa itu sendiri.

Pelajaran Bahasa Indonesia mulai dikenalkan di tingkat sekolah sejak kelas 1 SD. Seperti ulat yang hendak bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Mereka memulai dari nol. Pada masa tersebut materi pelajaran Bahasa Indonesia hanya mencakup membaca, menulis sambung serta membuat karangan singkat. Baik berupa karangan bebas hingga mengarang dengan ilustrasi gambar. Sampai ke tingkat-tingkat selanjutnya pola yang digunakan juga praktis tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pengajaran Bahasa Indonesia yang monoton telah membuat para siswanya mulai merasakan gejala kejenuhan akan belajar Bahasa Indonesia. Hal tersebut diperparah dengan adanya buku paket yang menjadi buku wajib. Sementara isi dari materinya terlalu luas dan juga cenderung bersifat hafalan yang membosankan. Inilah yang kemudian akan memupuk sifat menganggap remeh pelajaran Bahasa Indonesia karena materi yang diajarkan hanya itu-itu saja.

Saya mengambil contoh dari data tes yang dilakukan di beberapa SD di Indonesia tentang gambaran dari hasil pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SD. Tes yang digunakan adalah tes yang dikembangkan oleh dua Proyek Bank Dunia, yaitu PEQIP dan Proyek Pendidikan Dasar (Basic Education Projects) dan juga digunakan dalam program MBS dari Unesco dan Unicef. Dari tes menulis dinilai berdasarkan lima unsur: tulisan tangan (menulis rapi), ejaan, tanda baca, panjangnya karangan, dan kualitas bahasa yang digunakan. Bobot dalam semua skor adalah tulisan (15%), ejaan (15%), tanda baca (15%), panjang tulisan (20%), dan kualitas tulisan (35%).

Hanya 19% anak bisa menulis dengan tulisan tegak bersambung dan rapih. Sedangkan 64% bisa membaca rapih tetapi tidak bersambung. Perbedaan antarsekolah sangat mencolok. Pada beberapa sekolah kebanyakan anak menulis dengan rapih, sementara yang lain sedikit atau sama sekali tidak ada. Ini hampir bisa dipastikan guru-guru pada sekolah-sekolah yang pertama yang bagus tulisannya secara reguler mengajarkan menulis rapi. Sementara sekolah-sekolah yang belakangan tidak.

Hanya 16% anak menulis tanpa kesalahan ejaan dan 52% anak bisa menulis dengan ejaan yang baik (sebagian besar kata dieja dengan benar), sementara lebih dari 30% dari kasus menulis dengan kesalahan ejaan yang parah atau sangat parah. 58 % anak memberi tanda baca pada tulisan mereka dengan baik (dikategorikan bagus atau sempurna), sementara itu lebih dari 35% kasus anak yang menulis dengan kesalahan tanda baca dan dikategorikan kurang atau sangat kurang.

58% siswa menulis lebih dari setengah halaman dan 44% siswa isi tulisannya yang dinilai baik, yaitu gagasannya diungkapkan secara jelas dengan urutan yang logis. Pada umumnya anak kurang dapat mengelola gagasannya secara sistematis

Alasan mengapa begitu banyak anak yang mengalami kesulitan dalam menulis karangan dengan kualitas dan panjang yang memuaskan serta dengan menggunakan ejaan dan tanda baca yang memadai ialah anak-anak di banyak kelas jarang menulis dengan kata- kata mereka sendiri. Mereka lebih sering menyalin dari papan tulis atau buku pelajaran. Dari data tersebut menggambarkan hasil dari KBM Bahasa Indonesia di SD masih belum maksimal. Walaupun jam pelajaran Bahasa Indonesia sendiri memiliki porsi yang cukup banyak.

Setelah lulus SD dan melanjutkan ke SMP, ternyata proses pengajaran Bahasa Indonesia masih tidak kunjung menunjukan perubahan yang berarti. Ulat pun masih menjadi kepompong. Kelemahan proses KBM yang mulai muncul di SD ternyata masih dijumpai di SMP. Bahkan ironisnya, belajar menulis sambung yang mati-matian diajarkan dahulu ternyata hanya sebatas sampai SD saja. Pada saat SMP penggunaan huruf sambung seakan-akan haram hukumnya, karena banyak guru dari berbagai mata pelajaran yang mengharuskan muridnya untuk selalu menggunakan huruf cetak. Lalu apa gunanya mereka belajar menulis sambung?

Seharusnya pada masa ini siswa sudah mulai diperkenalkan dengan dunia menulis (mengarang) yang lebih hidup dan bervariatif. Dimana seharusnya siswa telah dilatih untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya dalam menulis: esai, cerita pendek, puisi, artikel, dan sebagainya. Namun, selama ini hal itu dibiarkan mati karena pengajaran Bahasa Indonesia yang tidak berpihak pada pengembangan bakat menulis mereka. Pengajaran Bahasa Indonesia lebih bersifat formal dan beracuan untuk mengejar materi dari buku paket. Padahal, keberhasilan kegiatan menulis ini pasti akan diikuti dengan tumbuhnya minat baca yang tinggi di kalangan siswa.

Beranjak ke tingkat SMA ternyata proses pembelajaran Bahasa Indonesiapun masih setali tiga uang. Sang ulat kini hanya menjadi kepompong besar. Kecuali dengan ditambahnya bobot sastra dalam pelajaran bahasa indonesia, materi yang diajarkan juga tidak jauh-jauh dari imbuhan, masalah ejaan, subjek-predikat, gaya bahasa, kohesi dan koherensi paragraf, peribahasa, serta pola kalimat yang sudah pernah diterima di tingkat pendidikan sebelumnya. Perasaan akan pelajaran Bahasa Indonesia yang dirasakan siswa begitu monoton, kurang hidup, dan cenderung jatuh pada pola-pola hafalan masih terasa dalam proses KBM.

Tidak adanya antusiasme yang tinggi, telah membuat pelajaran ini menjadi pelajaran yang kalah penting dibanding dengan pelajaran lain. Minat siswa baik yang menyangkut minat baca, maupun minat untuk mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia semakin tampak menurun. Padahal, bila kebiasaan menulis sukses diterapkan sejak SMP maka seharusnya saat SMA siswa telah dapat mengungkapkan gagasan dan ''unek-unek'' mereka secara kreatif. Baik dalam bentuk deskripsi, narasi, maupun eksposisi yang diperlihatkan melalui pemuatan tulisan mereka berupa Surat Pembaca di berbagai surat kabar. Dengan demikian apresiasi dari pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi jelas tampak prakteknya dalam kehidupasn sehari-hari. Bila diberikan bobot yang besar pada penguasaan praktek membaca, menulis, dan apresiasi sastra dapat membuat para siswa mempunyai kemampuan menulis jauh lebih baik Hal ini sangat berguna sekali dalam melatih memanfaatkan kesempatan dan kebebasan mereka untuk mengungkapkan apa saja secara tertulis, tanpa beban dan tanpa perasaan takut salah.

Setelah melihat pada ilustrasi dari pola pengajaran tersebut saya melihat adanya kelemahan - kelemahan dalam pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah. KBM belum sepenuhnya menekankan pada kemampuan berbahasa, namun lebih pada penguasaan materi. Hal ini terlihat dari porsi materi yang tercantum dalam buku paket lebih banyak diberikan dan diutamakan oleh para guru bahasa Indonesia. Sedangkan pelatihan berbahasa yang sifatnya lisan ataupun praktek hanya memiliki porsi yang jauh lebih sedikit. Padahal kemampuan berbahasa tidak didasarkan atas penguasaan materi bahasa saja, tetapi juga perlu latihan dalam praktek kehidupan sehari-hari.

Selain itu, pandangan atau persepsi sebagian guru, keberhasilan siswa lebih banyak dilihat dari nilai yang diraih atas tes, ulangan umum bersama (UUB) terlebih lagi pada Ujian Akhir Nasional (UAN). Nilai itu sering dijadikan barometer keberhasilan pengajaran. Perolehan nilai yang baik sering menjadi obsesi guru karena hal itu dipandang dapat meningkatkan prestise sekolah dan guru. Untuk itu, tidak mengherankan jika dalam KBM masih dijumpai guru memberikan latihan pembahasan soal dalam menghadapi UUB dan UAN. Apalagi dalam UUB dan UAN pada pelajaran bahasa Indonesia selalu berpola pada pilihan ganda. Dimana bagi sebagian besar guru menjadi salah satu orientasi di dalam proses pembelajaran mereka. Akibatnya, materi yang diberikan kepada siswa sekedar membuat mereka dapat menjawab soal-soal tersebut, tetapi tidak punya kemampuan memahami dan mengimplementasikan materi tersebut untuk kepentingan praktis dan kemampuan berbahasa mereka. Pada akhirnya para siswa yang dikejar-kejar oleh target NEM-pun hanya berorientasi untuk lulus dari nilai minimal atau sekadar bisa menjawab soal pilihan ganda saja. Perlu diingat bahwa soal-soal UAN tidak memasukan materi menulis atau mengarang (soal esai).

Peran guru Bahasa Indonesia juga tak lepas dari sorotan, mengingat guru merupakan tokoh sentral dalam pengajaran. Peranan penting guru juga dikemukakan oleh Harras (1994). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, dilaporkannya bahwa guru merupakan faktor determinan penyebab rendahnya mutu pendidikan di suatu sekolah. Begitu pula penelitian yang dilakukan International Association for the Evaluation of Education Achievement menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara tingkat penguasaan guru terhadap bahan yang diajarkan dengan pencapaian prestasi para siswanya . Sarwiji (1996) dalam penelitiannya tentang kesiapan guru Bahasa Indonesia, menemukan bahwa kemampuan mereka masih kurang. Kekurangan itu, antara lain, pada pemahaman tujuan pengajaran, kemampuan mengembangkan program pengajaran, dan penyusunan serta penyelenggaraan tes hasil belajar. Guru Bahasa Indonesia juga harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa yang langsung berhubungan dengan aspek pembelajaran menulis, kosakata, berbicara, membaca, dan kebahasaan .Rupanya guru juga harus selalu melakukan refleksi agar tujuan bersama dalam berbahasa Indonesia dapat tercapai.

Selain itu, siswa dan guru memerlukan bahan bacaan yang mendukung pengembangan minat baca, menulis dan apreasi sastra. Untuk itu, diperlukan buku-buku bacaan dan majalah sastra (Horison) yang berjalin dengan pengayaan bahan pengajaran Bahasa Indonesia. Kurangnya buku-buku pegangan bagi guru, terutama karya-karya sastra mutakhir (terbaru) dan buku acuan yang representatif merupakan kendala tersendiri bagi para guru. Koleksi buku di perpustakaan yang tidak memadai juga merupakan salah satu hambatan bagi guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah perpustakaan sekolah hanya berisi buku paket yang membuat siswa malas mengembangkan minat baca dan wawasan mereka lebih jauh.

Menyadari peran penting pendidikan bahasa Indonesia, pemerintah seharusnya terus berusaha meningkatkan mutu pendidikan tersebut. Apabila pola pendidikan terus stagnan dengan pola-pola lama, maka hasil dari pembelajaran bahasa Indonesia yang didapatkan oleh siswa juga tidak akan bepengaruh banyak. Sejalan dengan tujuan utama pembelajaran Bahasa Indonesia supaya siswa memiliki kemahiran berbahasa diperlukan sebuah pola alternatif baru yang lebih variatif dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah. Agar proses KBM di kelas yang identik dengan hal-hal yang membosankan dapat berubah menjadi suasana yang lebih semarak dan menjadi lebih hidup. Dengan lebih variatifnya metode dan teknik yang disajikan diharapkan minat siswa untuk mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia meningkat dan memperlihatkan antusiasme yang tinggi. Selain itu guru hendaknya melakukan penilaian proses penilaian atas kinerja berbahasa siswa selama KBM berlangsung. Jadi tidak saja berorientasi pada nilai ujian tertulis. Perlu adanya kolaborasi baik antar guru Bahasa Indonesia maupun antara guru Bahasa Indonesia dengan guru bidang studi lainnya. Dengan demikian, tanggung jawab pembinaan kemahiran berbahasa tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru Bahasa Indonesia melainkan juga guru bidang lain. Apabila, sistem pembelajaran Bahasa Indonesia yang setengah-setengah akan terus begini, maka metamorfosis sang ulat hanyalah akan tetap menjadi kepompong. Awet dan tidak berkembang karena pengaruh formalin pola pengajaran yang masih berorientasi pada nilai semata. (KoranBaru.com)

Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Filosofi pendidikan

Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup.

Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.

Bagi sebagian orang pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya."

Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam -- sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka -- walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.
Pendidikan dasar

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
Pendidikan menengah

Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar.
Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Jalur pendidikan

Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
Pendidikan formal

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.
Pendidikan nonformal

Pendidikan nonformal paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di setiap mesjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua gereja.

Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya. Program - program PNF yaitu Keaksaraan fungsional (KF); Pendidikan Kesetaraan A, B, C; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD); Magang; dan sebagainya Lembaga PNF yaitu PKBM, SKB, BPPNFI, dan lain sebagainya.
Pendidikan informal

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab.
Jenis pendidikan

Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.
Pendidikan umum

Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA).
Pendidikan kejuruan

Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah sekolah menengah kejuruan (SMK).
Pendidikan akademik

Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.
Pendidikan profesi

Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesional.
Pendidikan vokasi

Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).

Pendidikan jasmani



Pendidikan jasmani di Jakarta di masa Hindia Belanda
Pendidikan keagamaan

Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan /atau menjadi ahli ilmu agama.
Pendidikan khusus

Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk sekolah luar biasa/SLB).(KoranBaru.com)

Olahraga Skateboard


Di dunia ini, banyak sekali jenis olah raga. Penyebab secara langsung banyaknya jenis olah raga di dunia ini adalah semata untuk memenuhi kebutuhan penghuninya yang ingin bergaya hidup sehat.

Masyarakat dunia, bukan hanya Indonesia, sadar betul akan manfaat olah raga. Para ahli kesehatan di seluruh dunia rasanya akan setuju bila olah raga dijadikan salah satu hal yang dapat meningkatkan stamina tubuh manusia.

Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya mempunyai beberapa jenis olah raga. Olah raga yang ada di Indonesia rupanya mempunyai nama yang lebih panjang. Masyarakatnya sendirilah yang dengan kreatif memberi embel-embel “tradisional” di belakang nama “olah raga” tersebut.

Sesuai namanya, olah raga tradisional juga bersifat tradisional. Biasanya, olah raga semacam ini berasal dari daerah-daerah yang ada di Indonesia, seperti pencak silat, karapan sapi, sepak takraw, atau sepak raga, hingga olah raga ringan yang biasa dimainkan anak-anak yaitu enggrang. Jenis olah raga tradisional milik Indonesia ini sepertinya kalah saing dengan olah raga-olah raga modern produk luar.

Dalam perkembangannya, dunia olah raga di Indonesia banyak mendapat ‘suntikan’ olah raga baru dari luar negeri. Hampir semua jenis olah raga di Indonesia yang terkenal merupakan buatan luar negeri. Mulai sepak bola, bola voli, bola basket, badminton, marathon, base ball, dan yang sedang digemari oleh kalangan muda Indonesia sekarang ini adalah skateboard.

Hal itu seolah membuktikan bahwa selain musik, olah raga juga merupakan hal yang universal.

Kaum muda Indonesia belakangan ini gandrung dengan jenis olah raga yang menggunakaan papan beroda sebagai media utamanya. Olah raga ini biasa disebut skateboard.

Skateboard adalah salah satu jenis olah raga modern yang dikenalkan Amerika Serikat pada Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Sejarah awal skateboard terjadi di Amerika Serikat. Seorang peselancar di California membuat sebuah alat yang terbuat dari papan dengan ban yang terletak dibawahnya.

Tujuan awal pembuatan papan ini bukan seperti yang terjadi sekarang. Zaman dulu, papan ini bernama sidewalk surfing. Sesuai dengan namanya terdahulu, papan ini pun awalnya dibuat untuk memudahkan peselancar untuk berselancar ketika air laut sedang tidak berombak.

Olah raga skateboard kemudian berkembang sesuai keinginan para penikmatnya. Pada 1960, papan ini diproduksi secara massal. Pada 1970, olah raga ini mulai sepi peminat.

Penyebabnya adalah biaya pembuatan papan dan arena bermain yang mahal. Karena keinginan peminat yang lumayan tinggi, pada 1980-an, skateboard mulai banyak lagi digemari.

Perubahan demi perubahan yang dialami olah raga ini juga mencakup perubahan bentuk papan. Papan skateboard yang dikenal oleh masyarakat belakangan ini memiliki lebar 8 inchi dengan panjang hingga 32 inchi.

Olah raga ini mempunyai kesulitan yang cukup tinggi, terutama bagi mereka yang belum pernah melakukannya. Pemain skateboard dituntut untuk bisa menyeimbangkan diri ketika berdiri di atas papan yang beroda. Setelah dirasa bisa berdiri seimbang, teknik bermain yang akan dilakukan pun akan lebih berbahaya.

Teknik-teknik dalam bermain papan luncur ini bermacam-macam. Mulai teknik dasar seperti melompat atau yang dikenal oleh kalangan skateborder dengan sebutan Ollie hingga teknik lanjutan seperti kickflip atau gerakan memutar papan dengan cara menendangnya hingga menghasilkan sudut 360 derajat.

Bagi mereka yang sudah ahli, teknik-teknik menyeramkan seperti ini justru akan mudah dilakukan. Tidak jarang bila hal itu berhasil dilakukan, akan memberikan efek ‘keren’ bagi yang melihatnya.

Walaupun teknik seperti itu bisa membuat pemainnya terluka, bagi mereka yang sungguh-sungguh mencintai salah satu olah raga ekstrem ini sepertinya hal demikian tidaklah menakutkan.

Teknik-teknik lain yang lebih sulit pun masih cukup banyak. Tentu saja, teknik tinggi yang terdapat pada olah raga skateboard ini tidak akan bisa dikuasai bila tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh. Sekalipun olah raga ini dikenal dengan keekstremannya, permainan papan beroda ini cukup menggoda.(KoranBaru.com)

bulu tangkis

Bulu tangkis (sering disingkat bultang) atau badminton adalah suatu olahraga raket yang dimainkan oleh dua orang (untuk tunggal) atau dua pasangan (untuk ganda) yang saling berlawanan.

Mirip dengan tenis, bulu tangkis bertujuan memukul bola permainan ("kok" atau "shuttlecock") melewati jaring agar jatuh di bidang permainan lawan yang sudah ditentukan dan berusaha mencegah lawan melakukan hal yang sama.

Partai



Lapangan bulu tangkis

Ada lima partai yang biasa dimainkan dalam bulu tangkis, yaitu:

1. Tunggal putra
2. Tunggal putri
3. Ganda putra
4. Ganda putri
5. Ganda campuran

Lapangan dan jaring

Lapangan bulu tangkis berbentuk persegi panjang dan mempunyai ukuran seperti terlihat pada gambar. Garis-garis yang ada mempunyai ketebalan 40 mm dan harus berwarna kontras terhadap warna lapangan. Warna yang disarankan untuk garis adalah putih atau kuning. Permukaan lapangan disarankan terbuat dari kayu atau bahan sintetis yg lunak. Permukaan lapangan yang terbuat dari beton atau bahan sintetik yang keras sangat tidak dianjurkan karena dapat mengakibatkan cedera pada pemain. Jaring setinggi 1,55 m berada tepat di tengah lapangan. Jaring harus berwarna gelap kecuali bibir jaring yang mempunyai ketebalan 75 mm harus berwarna putih.
Perlengkapan

* Raket

Secara tradisional raket dibuat dari kayu. Kemudian aluminium atau logam ringan lainnya menjadi bahan yang dipilih. Kini, hampir semua raket bulu tangkis profesional berkomposisikan komposit serat karbon (plastik bertulang grafit). Serat karbon memiliki kekuatan hebat terhadap perbandingan berat, kaku, dan memberi perpindahan energi kinetik yang hebat. Namun, sejumlah model rendahan masih menggunakan baja atau aluminium untuk sebagian atau keseluruhan raket.

* Senar

Mungkin salah satu dari bagian yang paling diperhatikan dalam bulu tangkis adalah senar nya. Jenis senar berbeda memiliki ciri-ciri tanggap berlainan. Keawetan secara umum bervariasi dengan kinerja. Kebanyakan senar berketebalan 21 ukuran dan diuntai dengan ketegangan 18 sampai 30+ lb. Kesukaan pribadi sang pemain memainkan peran yang kuat dalam seleksi senar.

* Kok

Kok adalah bola yang digunakan dalam olahraga bulu tangkis, terbuat dari rangkaian bulu angsa yang disusun membentuk kerucut terbuka, dengan pangkal berbentuk setengah bola yang terbuat dari gabus. Dalam latihan atau pertandingan tidak resmi digunakan juga kok dari plastik.

* Sepatu

Karena percepatan sepanjang lapangan sangatlah penting, para pemain membutuhkan pegangan dengan lantai yang maksimal pada setiap saat. Sepatu bulu tangkis membutuhkan sol karet untuk cengkraman yang baik, dinding sisi yang bertulang agar tahan lama selama tarik-menarik, dan teknologi penyebaran goncangan untuk melompat; bulu tangkis mengakibatkan agak banyak stres (ketegangan) pada lutut dan pergelangan kaki.
Memainkan bulu tangkis



Area permainan
Tiap pemain atau pasangan mengambil posisi berseberangan pada kedua sisi jaring di lapangan bulu tangkis.

Permainan dimulai dengan salah satu pemain melakukan servis.

Tujuan permainan adalah untuk memukul sebuah kok menggunakan raket, melewati jaring ke wilayah lawan, sampai lawan tidak dapat mengembalikannya kembali. Area permainan berbeda untuk partai tunggal dan ganda, seperti yang diperlihatkan pada gambar. Bila kok jatuh di luar area tersebut maka kok dikatakan "keluar". Setiap kali pemain/pasangan tidak dapat mengembalikan kok (karena menyangkut di jaring atau keluar lapangan) maka lawannya akan memperoleh poin.

Permainan berakhir bila salah satu pemain/pasangan telah meraih sejumlah poin tertentu.

Servis



Area servis

Servis dilakukan dari satu sisi lapangan (kiri atau kanan) menyilang menyeberangi jaring ke area lawan. Partai tunggal dan ganda memiliki area servis yang berbeda seperti yang diilustrasikan pada gambar. Bila kok jatuh di luar area tersebut maka kok dinyatakan "keluar" dan poin untuk penerima servis.

Posisi kiri atau kanan tempat servis dilakukan ditentukan dari jumlah poin yang telah dikumpulkan oleh pemain yang akan melakukan servis. Posisi kanan untuk jumlah poin genap dan posisi kiri untuk jumlah poin ganjil. Servis dari posisi kanan juga dilakukan saat jumlah poin masih nol.

Pada set pertama pemain/pasangan yang melakukan servis untuk pertama kali ditentukan dengan undian, sedangkan untuk set berikutnya dilakukan oleh pemenang dari set sebelumnya.

Untuk partai ganda, beberapa peraturan berbeda diterapkan untuk perhitungan poin menggunakan sistem pindah bola dan sistem reli poin:
Sistem pindah bola

* Sebelum pertandingan dimulai, harus ditentukan salah seorang pemain dari tiap-tiap pasangan sebagai "orang pertama". Pilihan ini berlaku untuk setiap set yang dimainkan.
* Jumlah poin genap atau ganjil menentukan posisi "orang pertama" saat melakukan servis.
* Setiap pasangan mempunyai dua kali kesempatan servis (masing-masing untuk tiap pemain) sebelum pindah bola, kecuali servis pertama pada tiap-tiap awal set tidak mendapat kesempatan kedua.
* Saat pindah bola, servis pertama selalu dilakukan oleh pemain yang berada di sebelah kanan, bukan oleh "orang pertama".

Sistem reli poin

* Setiap pasangan hanya mendapat satu kali kesempatan servis, tidak ada servis kedua.
* Servis dilakukan oleh pemain yang posisinya sesuai dengan poin yang telah diraih oleh pasangan tersebut.
* Pemain yang sama akan terus melakukan servis sampai poin berikutnya diraih oleh lawan.

Sistem perhitungan poin

Sejak Mei 2006, pada kejuaraan resmi seluruh partai menggunakan sistem perhitungan 3x21 reli poin. Pemenang adalah pemain/pasangan yang telah memenangkan dua set.

Sejarah



Permainan Battledore and Shuttlecock pada tahun 1854

Olah raga yang dimainkan dengan kok dan raket, kemungkinan berkembang di Mesir kuno sekitar 2000 tahun lalu tetapi juga disebut-sebut di India dan Republik Rakyat Cina.

Nenek moyang terdininya diperkirakan ialah sebuah permainan Tionghoa, Jianzi yang melibatkan penggunaan kok tetapi tanpa raket. Alih-alih, objeknya dimanipulasi dengan kaki. Objek/misi permainan ini adalah untuk menjaga kok agar tidak menyentuh tanah selama mungkin tanpa menggunakan tangan.

Di Inggris sejak zaman pertengahan permainan anak-anak yang disebut Battledores dan Shuttlecocks sangat populer. Anak-anak pada waktu itu biasanya akan memakai dayung/tongkat (Battledores) dan bersiasat bersama untuk menjaga kok tetap di udara dan mencegahnya dari menyentuh tanah. Ini cukup populer untuk menjadi nuansa harian di jalan-jalan London pada tahun 1854 ketika majalah Punch mempublikasikan kartun untuk ini.

Penduduk Inggris membawa permainan ini ke Jepang, Republik Rakyat Cina, dan Siam (sekarang Thailand) selagi mereka mengolonisasi Asia. Ini kemudian dengan segera menjadi permainan anak-anak di wilayah setempat mereka.

Olah raga kompetitif bulu tangkis diciptakan oleh petugas Tentara Britania di Pune, India pada abad ke-19 saat mereka menambahkan jaring dan memainkannya secara bersaingan. Oleh sebab kota Pune dikenal sebelumnya sebagai Poona, permainan tersebut juga dikenali sebagai Poona pada masa itu.

Para tentara membawa permainan itu kembali ke Inggris pada 1850-an. Olah raga ini mendapatkan namanya yang sekarang pada 1860 dalam sebuah pamflet oleh Isaac Spratt, seorang penyalur mainan Inggris, berjudul "Badminton Battledore - a new game" ("Battledore bulu tangkis - sebuah permainan baru"). Ini melukiskan permainan tersebut dimainkan di Gedung Badminton (Badminton House), estat Duke of Beaufort's di Gloucestershire, Inggris.

Rencengan peraturan yang pertama ditulis oleh Klub Badminton Bath pada 1877. Asosiasi bulu tangkis Inggris dibentuk pada 1893 dan kejuaraan internasional pertamanya berunjuk-gigi pertama kali pada 1899 dengan Kejuaraan All England.

bulu tangkis menjadi sebuah olah raga populer di dunia, terutama di wilayah Asia Timur dan Tenggara, yang saat ini mendominasi olah raga ini, dan di negara-negara Skandinavia.
Induk organisasi

International Badminton Federation (IBF) didirikan pada tahun 1934 dan membukukan Inggris, Irlandia, Skotlandia, Wales, Denmark, Belanda, Kanada, Selandia Baru, dan Prancis sebagai anggota-anggota pelopornya. India bergabung sebagai afiliat pada tahun 1936. Pada IBF Extraordinary General Meeting di Madrid, Spanyol, September 2006, usulan untuk mengubah nama International Badminton Federation menjadi Badminton World Federation (BWF) diterima dengan suara bulat oleh seluruh 206 delegasi yang hadir.

Olah raga ini menjadi olah raga Olimpiade Musim Panas di Olimpiade Barcelona tahun 1992. Indonesia dan Korea Selatan sama-sama memperoleh masing-masing dua medali emas tahun itu
(KoranBaru.com)

Selasa, 18 Januari 2011

Fashion

Fashion, a general term for a currently popular style or practice, especially in clothing, foot wear or accessories. Fashion references to anything that is the current trend in look and dress up of a person. The more technical term, costume, has become so linked in the public eye with the term "fashion" that the more general term "costume" has in popular use mostly been relegated to special senses like fancy dress or masquerade wear, while the term "fashion" means clothing generally, and the study of it. For a broad cross-cultural look at clothing and its place in society, refer to the entries for clothing, costume and fabrics. The remainder of this article deals with clothing fashions in the Western world.[1]




For detailed historical articles by period, see History of Western fashion.

Early Western travelers, whether to Persia, Turkey or China frequently remark on the absence of changes in fashion there, and observers from these other cultures comment on the unseemly pace of Western fashion, which many felt suggested an instability and lack of order in Western culture. The JapaneseShogun's secretary boasted (not completely accurately) to a Spanish visitor in 1609 that Japanese clothing had not changed in over a thousand years.[2]However in Ming China, for example, there is considerable evidence for rapidly changing fashions in Chinese clothing.[3]

Changes in costume often took place at times of economic or social change (such as in ancient Rome and the medieval Caliphate), but then a long period without major changes followed. This occurred in Moorish Spain from the 8th century, when the famous musician Ziryab introduced sophisticated clothing styles based on seasonal and daily timings from his native Baghdad and his own inspiration to Córdoba, Spain.[4][5] Similar changes in fashion occurred in the Middle East from the 11th century, following the arrival of the Turks who introduced clothing styles from Central Asia and the Far East.[6]

The beginnings of the habit in Europe of continual and increasingly rapid change in clothing styles can be fairly reliably dated to the middle of the 14th century, to which historians including James Laver and Fernand Braudel date the start of Western fashion in clothing.[7][8] The most dramatic manifestation was a sudden drastic shortening and tightening of the male over-garment, from calf-length to barely covering the buttocks, sometimes accompanied with stuffing on the chest to look bigger. This created the distinctive Western male outline of a tailored top worn over leggings or trousers.

Marie Antoinette was a fashion icon

The pace of change accelerated considerably in the following century, and women and men's fashion, especially in the dressing and adorning of the hair, became equally complex and changing. Art historians are therefore able to use fashion in dating images with increasing confidence and precision, often within five years in the case of 15th century images. Initially changes in fashion led to a fragmentation of what had previously been very similar styles of dressing across the upper classes of Europe, and the development of distinctive national styles. These remained very different until a counter-movement in the 17th to 18th centuries imposed similar styles once again, mostly originating from Ancien Régime France.[9] Though the rich usually led fashion, the increasing affluence of early modern Europe led to the bourgeoisie and evenpeasants following trends at a distance sometimes uncomfortably close for the elites - a factor Braudel regards as one of the main motors of changing fashion.[10]

Albrecht Dürer's drawing contrasts a well turned out bourgeoisie from Nuremberg(left) with her counterpart from Venice. The Venetian lady's high chopines make her taller

Ten 16th century portraits of German or Italian gentlemen may show ten entirely different hats, and at this period national differences were at their most pronounced, as Albrecht Dürer recorded in his actual or composite contrast of Nuremberg and Venetian fashions at the close of the 15th century (illustration, right). The "Spanish style" of the end of the century began the move back to synchronicity among upper-class Europeans, and after a struggle in the mid 17th century, French styles decisively took over leadership, a process completed in the 18th century.[11]

Though colors and patterns of textiles changed from year to year,[12] the cut of a gentleman's coat and the length of his waistcoat, or the pattern to which a lady's dress was cut changed more slowly. Men's fashions largely derived from military models, and changes in a European male silhouette are galvanized in theatres of European war, where gentleman officers had opportunities to make notes of foreign styles: an example is the "Steinkirk"cravat or necktie.

The pace of change picked up in the 1780s with the increased publication of French engravings that showed the latest Paris styles; though there had been distribution of dressed dolls from France as patterns since the 16th century, and Abraham Bosse had produced engravings of fashion from the 1620s. By 1800, all Western Europeans were dressing alike (or thought they were): local variation became first a sign of provincial culture, and then a badge of the conservative peasant.[13]

Although tailors and dressmakers were no doubt responsible for many innovations before, and the textile industry certainly led many trends, the history of fashion design is normally taken to date from 1858, when the English-born Charles Frederick Worth opened the first true haute couture house in Paris. Since then the professional designer has become a progressively more dominant figure, despite the origins of many fashions in street fashion. For women theflapper styles of the 1920s marked the most major alteration in styles for several centuries, with a drastic shortening of skirt lengths, and much looser-fitting clothes; with occasional revivals of long skirts forms of the shorter length have remained dominant ever since. The four major current fashion capitals are acknowledged to be Milan, New York City, Paris, and London. Fashion weeks are held in these cities, where designers exhibit their new clothing collections to audiences, and which are all headquarters to the greatest fashion companies and are renowned for their major influence on global fashion.

Modern Westerners have a wide choice available in the selection of their clothes. What a person chooses to wear can reflect that person's personality or likes. When people who have cultural status start to wear new or different clothes a fashion trend may start. People who like or respect them may start to wear clothes of a similar style.

Fashions may vary considerably within a society according to age, social class, generation, occupation, and geography as well as over time. If, for example, an older person dresses according to the fashion of young people, he or she may look ridiculous in the eyes of both young and older people. The terms 'fashionista' or fashion victim refer to someone who slavishly follows the current fashions.

One can regard the system of sporting various fashions as a fashion language incorporating various fashion statements using a grammar of fashion. (Compare some of the work of Roland Barthes.)

[edit]Fashion industry

The fashion industry is a product of the modern age. Prior to the mid-19th century, most clothing was custom made. It was handmade for individuals, either as home production or on order from dressmakers and tailors. By the beginning of the 20th century—with the rise of new technologies such as the sewing machine, the rise of global capitalism and the development of the factory system of production, and the proliferation of retail outlets such as department stores—clothing had increasingly come to be mass-produced in standard sizes and sold at fixed prices. Although the fashion industry developed first in Europe and America, today it is an international and highly globalized industry, with clothing often designed in one country, manufactured in another, and sold world-wide. For example, an American fashion company might source fabric in China and have the clothes manufactured in Vietnam, finished in Italy, and shipped to a warehouse in the United States for distribution to retail outlets internationally. The fashion industry has long been one of the largest employers in the United States, and it remains so in the 21st century. However, employment declined considerably as production increasingly moved overseas, especially to China. Because data on the fashion industry typically are reported for national economies and expressed in terms of the industry’s many separate sectors, aggregate figures for world production of textiles and clothing are difficult to obtain. However, by any measure, the industry accounts for a significant share of world economic output.

The fashion industry consists of four levels: the production of raw materials, principally fibres and textiles but also leather and fur; the production of fashion goods by designers, manufacturers, contractors, and others; retail sales; and various forms of advertising and promotion. These levels consist of many separate but interdependent sectors, all of which are devoted to the goal of satisfying consumer demand for apparel under conditions that enable participants in the industry to operate at a profit. [14]

[edit]Media

Fashion shot from 2006

An important part of fashion is fashion journalism. Editorial critique, guidelines and commentary can be found in magazines, newspapers, on television, fashion websites, social networks and in fashion blogs.

At the beginning of the 20th century, fashion magazines began to include photographs of various fashion designs and became even more influential on people than in the past. In cities throughout the world these magazines were greatly sought-after and had a profound effect on public clothing taste. Talentedillustrators drew exquisite fashion plates for the publications which covered the most recent developments in fashion and beauty. Perhaps the most famous of these magazines was La Gazette du Bon Ton which was founded in 1912 by Lucien Vogel and regularly published until 1925 (with the exception of the war years).

Vogue, founded in the US in 1892, has been the longest-lasting and most successful of the hundreds of fashion magazines that have come and gone. Increasing affluence after World War II and, most importantly, the advent of cheap colour printing in the 1960s led to a huge boost in its sales, and heavy coverage of fashion in mainstream women's magazines - followed by men's magazines from the 1990s. Haute couture designers followed the trend by starting the ready-to-wear and perfume lines, heavily advertised in the magazines, that now dwarf their original couture businesses. Television coverage began in the 1950s with small fashion features. In the 1960s and 1970s, fashion segments on various entertainment shows became more frequent, and by the 1980s, dedicated fashion shows like Fashion-television started to appear. Despite television and increasing internet coverage, including fashion blogs, press coverage remains the most important form of publicity in the eyes of the fashion industry.

However, over the past several years, fashion websites have developed that merge traditional editorial writing with user-generated content. Online magazines like iFashion Network, and Runway Magazine, led by Nole Marin from America's Next Top Model, have begun to dominate the market with digital copies for computers, iPhones and iPads.

A few days after the 2010 Fall Fashion Week in New York City came to a close, The New Islander's Fashion Editor, Genevieve Tax, criticized the fashion industry for running on a seasonal schedule of its own, largely at the expense of real-world consumers. "Because designers release their fall collections in the spring and their spring collections in the fall, fashion magazines such as Vogue always and only look forward to the upcoming season, promoting parkas come September while issuing reviews on shorts in January," she writes. "Savvy shoppers, consequently, have been conditioned to be extremely, perhaps impractically, farsighted with their buying."[15]

[edit]Intellectual property

Within the fashion industry, intellectual property is not enforced as it is within the film industry and music industry. To "take inspiration" from others' designs contributes to the fashion industry's ability to establish clothing trends. For the past few years, WGSN has been a dominant source of fashion news and forecasts in steering fashion brands worldwide to be "inspired" by one another. Enticing consumers to buy clothing by establishing new trends is, some have argued, a key component of the industry's success. Intellectual property rules that interfere with the process of trend-making would, on this view, be counter-productive. In contrast, it is often argued that the blatant theft of new ideas, unique designs, and design details by larger companies is what often contributes to the failure of many smaller or independent design companies.

In 2005, the World Intellectual Property Organization (WIPO) held a conference calling for stricter intellectual property enforcement within the fashion industry to better protect small and medium businesses and promote competitiveness within the textile and clothing industries.[16][17]